Keadaan Terburuk dalam Hidup

Kita bisa belajar dari mana saja, setuju gak? Bisa dari pengalaman sendiri, pengalaman orang lain, acara di tv dan lainnya. Bahkan, kita bisa belajar tentang hidup dari perbedaan pandangan dengan orang lain. Semua bisa memberi kita “sesuatu”.

Saya baru saja menonton serial kesukaan saya, NCIS. Di season ke 14 ini, ada satu adegan di mana Palmer – asisten MI di NCIS harus bertahan di pinggir jendela dengan seorang anak yang ingin bunuh diri. Dalam salah satu dialog antara mereka, anak ini ternyata merasa rendah diri karena suka membandingkan dengan yang diraih temannya.

Melihat sosial media teman-temannya, anak ini merasa dia tidak ada apa-apa.

Temannya sudah sukses. Bisa jalan ke mana-mana. Pokoknya serba wah yang ditampilkan di akun sosmed teman-temannya itu.

Pembuktian atau Penyembunyian?

Mendengar hal itu, Palmer mengatakan:

They only show the best. Not the B side.

Yang kalau diartikan kira-kira, apa yang ditampilkan di sosial media itu adalah yang bagusnya aja. Yang jelek? Gak ada.

pengalaman buruk dalam hidup

Perlu gak membagikan yang jelek di sosial media kita?

Jadi… sebenarnya sosial media ini adalah alat mereka untuk “memamerkan” kelebihan mereka. Apa yang diraih. Apa yang dicapai.

Semacam pembuktian bahwa mereka sukses, berhasil dalam hidup. Tapi apa memang benar mereka tidak pernah mengalami keadaan terburuk dalam hidup mereka?

Keadaan Terburuk dalam Hidup

Saya sih yakin, setiap orang pasti pernah mengalami ups and downs dalam hidup mereka. Pernah berada di puncak – entah itu puncak kekayaan, kejayaan, dalam hal karir atau lainnya.

At least, once they were on the top. 

Namun, di sisi lain, saya yakin juga kalau tiap orang pernah berada di titik terendah dalam hidup mereka. Dalam keadaan terburuk dalam hidup mereka masing-masing. Dan setiap orang mengalami yang berbeda-beda.

menikmati hidup sekalipun dalam keadaan terburuk dalam hidup

Menikmati hidup sekalipun dalam keadaan terburuk dalam hidup

Mungkin ada yang merasa mendapat nilai ulangan 6 itu adalah titik terburuk mereka. Mungkin juga ada yang menganggap diputus pacar adalah yang keadaan terburuk dalam hidup. Ya… semua sah aja kok. Karena kita memang bukan mereka dan gak tahu apa yang mereka alami kan?

Bukan Kebanggaan – Gak Perlu Diumbar

Mungkin itulah yang ada dalam benak setiap orang dalam bermain di sosial media. Keadaan terburuk yang mereka alami bukanlah suatu hal yang perlu dibanggakan. Dan gak perlu diumbar sama sekali. Bahkan terkadang, mereka tidak berbaginya ke siapapun, termasuk ke keluarga – dan memendamnya sendiri.

Buat apa mereka tahu? Mereka gak perlu tahu kok. Yang penting mereka lihat Guwe baik-baik aja.

Itu mungkin yang jadi alasan. Atau mungkin kitanya hanyalah terlalu introvert untuk membagikannya kepada siapapun.

Memendam Bukan Jawaban

Kenyataannya, kawan, memendam apa yang jadi beban pikiran kita itu bukanlah jawaban. Dalam keadaan terburuk dalam hidup, kita sebaiknya tidak melewatinya sendirian. Kita ini butuh orang lain dan kita harus menyadari bahwa kita memang butuh mereka.

Kita butuh mereka yang bisa mendengarkan. Gak perlu komentar macam-macam dari mereka. Hanya didengar aja cukup.

Karena memendam masalah yang dihadapi bukan jawaban – malah terkadang mengarahkan kita ke titik yang jauh lebih bahaya lagi. Yaitu depresi karena tidak bisa menyelesaikannya sama sekali.

Jangan Memendamnya…. Berbagi Boleh Kok

Carilah teman untuk berbagi. Kalau gak punya, bolehlah dengan berbaginya dalam tulisan. Entah itu di sosial media ataupun dalam blog. Boleh juga menulis dan berbagi di Pikiran Random ini loh.

menghadapi masalah dalam hidup

Menulis bisa jadi obat untuk masalah dalam hidup

Mungkin… akan ada yang merasa:

Lebay deh lo… gitu aja pake diumbar di sosial media. Mending sharing yang lain.

Abaikan aja mereka. Toh kita gak “meminta” dari mereka kan? Kita menulis untuk melepaskan apa yang ada dalam pikiran kita. Dan siapa tahu, ada yang baca dan bisa membantu kita.

Saya ingat ucapan teman. Dia bilang, kita gak tahu apa yang kita tulis merupakan inspirasi atau bukan. Yang bacalah yang menentukan. Bisa jadi, yang dianggap remeh menjadi inspirasi orang lain.

Demikian juga kalau kita membagi kondisi terburuk kita. Bisa jadi, ada yang dapat membantu kita.

Walau terkadang, apa yang kita butuhkan hanyalah… Orang yang ingin mendengar.

Cuma satu hal sih, yang saya bisa sampaikan dalam berbagi soal kondisi kita ini. Jangan berlebihan dalam membaginya, entah itu di sosial media atau di manapun.

Keadaan Terburuk dalam Hidup Bukanlah Akhir…

Itu kenyataannya kawans… Bukanlah akhir dari hidup kita. Keadaan terburuk dalam hidup kita bukanlah akhir, tapi mungkin adalah awal dari yang sudah digariskan olehNya. Bisa jadi semua ini hanyalah cobaan untuk kita menjadi lebih baik.

Seperti dalam episode di Grey’s Anatomy – di mana Meredith kehilangan suaminya, Derek. Yang dikatakan Meredith pada dokter yang mengurus Derek:

He is the one. The only one that gonna make you better or break. 

Dalam hidup dokter tersebut, Derek adalah keadaan terburuk dalam hidup yang pernah dialaminya. Yang akan selalu jadi kenangan. Namun, kenangan itulah yang dibutuhkan oleh dokter itu – untuk lanjut hidup dengan lebih baik atau menyerah.

Seperti itulah hidup kita juga. Sebaik apapun hidup orang yang kita lihat, keadaan terburuk pasti pernah dialami oleh orang itu. Namun yang membedakannya adalah apa yang dilakukan setelah keadaan itu. Setelah titik Nol itu. Seperti yang saya tulis dalam Titik Nol, ada satu mantra yang saya biasa pakai.

This too shall pass…. Semua akan berlalu. 

Dan semua itu tergantung pada diri kita sendiri. Yang menjadi tokoh utama dalam hidup kita sendiri.

Discussion

Leave a Reply