Fitur Memori di Media Sosial – Apa Kenangan Lama Kamu? Positif atau Negatif?

Meskipun sudah lama tersadar dengan adanya fitur memori di media sosial, baru kali ini saya menyadari fungsi lain dari fitur tersebut.

Tahu ‘kan, fungsi utama fitur memori di media sosial? Kadang saat kita membuka laman akun kita, ada notifikasi mengenai posting lama yang pernah kita publikasikan pada hari yang sama – beberapa tahun silam. Setahun yang lalu, tiga tahun yang lalu…sebut saja.

Posting Positif versus Negatif di Media Sosial

Kayak apa sih, postingan kita rata-rata di media sosial? Yang bagus-bagus, seperti foto-foto bersama orang-orang tercinta? Tulisan inspiratif di note dan status buat lucu-lucuan? Meme kocak dan tautan ke artikel-artikel seru?

Atau malah yang negatif? Kayak meme sarkastik dan foto-foto kejadian tragis masa lalu? Status curhatan tentang orang-orang yang menyebalkan dalam hidup kita – dan tentang pemerintah, mungkin? Hoax?

fitur memori di sosial media

fitur memori di sosial media ini kan tujuannya mengingatkan…. nah, post lama kamu gimana? positif atau negatif?

Gimana sih, rasanya saat melihat postingan lama keluar lagi? Seperti melihat kembali perjalanan hidup lama kan? Gimana juga rasanya pas melihat postingan lama orang lain di laman mereka, berkat fitur memori yang sama?

Enaknya sih, kita cuma mengingat yang baik-baik dan melupakan yang buruk. Apalagi saat kita sedang dalam kondisi nggak enak dan butuh penyemangat. Cukup melihat postingan lama yang bagus-bagus dan perasaan kita akan bahagia kembali. Postingan tersebut bisa jadi pengingat dan sugesti ampuh:

Kalo waktu itu bisa bahagia, kita masih bisa kok, bahagia lagi.

Gimana dengan postingan yang negatif? Selalu ada pilihan. Sama kayak orang yang sadar akan kesehatan dan memilih makanan dengan hati-hati. Kita bisa memilih untuk curhat ke semua orang atau memutuskan untuk menyimpannya sendiri.

Perlukah Semua Tahu?

Tapi, apa iya seluruh dunia wajib tahu semuanya? Apa pun yang kita lakukan, orang-orang yang kita sayang, musuh-musuh kita? Memangnya sedikit misteri sudah nggak relevan lagi, ya?

Misalnya: kita bertengkar dengan seorang teman. Sesudahnya, si teman langsung menulis status yang pastinya menyindir kita, meski dengan #nomention segala. Karena malas, akhirnya kita memutuskan untuk diam-diaman dengan teman.

Nggak lama, kalian baikan. Semua kembali normal, namun entah kenapa si teman nggak menghapus status sial itu. Garar-gara si fitur memori, kalian suatu saat melihatnya lagi…

post di sosial media

…dan, gimana rasanya? Mungkin ada yang cukup berbesar hati dan menertawakannya sebagai ‘kekonyolan’ masa lalu. Namun, apa iya semua orang begitu? Apalagi bila kata-kata yang dipakai ‘sekelas’ sama ucapan preman jalanan.

Mungkin masih ada rasa sayang yang bikin kita sedih. Sisanya? Lebih banyak rasa khawatir…dan mungkin juga takut sekaligus muak. Hanya orang-orang super sabar yang bisa tahan berteman dengan mereka yang terlalu banyak mengumbar status negatif di media sosial.

Apakah kemungkinan besar mereka termasuk sosok pendendam? Apakah mereka akan membawa-bawa lagi masa lalu setiap kali berdebat? Wajar bila kita was-was. Meskipun sudah minta maaf dan (katanya) masalah sudah (dianggap) selesai, malas rasanya kalau sampai ada yang mengungkit-ungkit lagi. Mau relevan atau enggak, sama aja.

Ingat yang Baik, Lupakan yang Buruk:

Seorang sahabat lama memutuskan untuk enggak lagi menulis di blog mengenai kehidupan pribadinya untuk konsumsi publik. Alasannya?

“Lama-lama males juga, kayak cari tontonan. Emang mereka perlu tahu apa gue lagi sedih atau berantem ama pacar? Emang ada gunanya gitu?”

Seperti biasa, masalah pilihan. Sama seperti seorang anak laki-laki yang diceritakan Sean Covey dalam bukunya “The 7 Habits for Highly-Effective Teens”. Berbeda dengan kebanyakan pemilik jurnal atau buku harian, anak ini memilih untuk mendokumentasikan yang bagus-bagus saja di buku hariannya. Mau itu tawa mama atau pelukan kakak, atau bahkan lagu favorit hingga hal-hal seru yang suka dilakukannya.

Sama seperti mereka yang memilih untuk sharing yang bagus-bagus aja di media sosial, anak ini juga memilih demikian saat menulis. Jadi, pas dia lagi sedih atau bete, tinggal baca lagi deh, buku hariannya untuk pengingat agar dia senantiasa bersyukur.

Jadi, mau diingat seperti apa kita? Gimana rasanya melihat pengingat berupa postingan lama di media sosial lewat fitur memori? Apakah kita akan memilih untuk membagikannya lagi – atau malah menghapusnya sekalian? Apakah postingan tersebut bahkan cukup pantas untuk dibagikan ulang, sama halnya dengan kisah masa lalu kita?

RR.

 

Leave a Reply