Tentang Tulisan Yang Dianggap Cuma Curhatan Semata

tulisan yang dianggap curhatan

Ini tulisan atau curhatan?

“Ini tulisan apa curhatan?”

Bagi yang suka menulis apa pun, pernah nggak dapat komentar begini? Gimana rasanya? Kesal dan merasa diremehin? Cuek dan biasa saja?

Namanya juga manusia. Pasti ada saja komentarnya untuk sesama. Kadang mau dibalas juga percuma. Yang ada bisa merepet ke mana-mana. Alamat nggak kelar-kelar sampai lusa.

Sebenarnya, apa sih, yang salah dengan curhatan? Saya yakin sih, nggak ada. Minimal sekali seumur hidup, semua orang pasti pernah melakukannya. Ada yang selalu ke Tuhan, ke ortu, saudara, sahabat, dan masih banyak lagi.

Soal Curhatan

Soal frekuensi curhatan juga bisa beragam. Ada yang hanya sekali terus udahan. Ada yang beberapa kali sampai masalah selesai.

Yang berkali-kali? Ada juga. Tentu saja, nggak semua orang cukup sabar jadi pendengar. Lumrah aja. Bila kemudian ada yang kecewa karena (merasa) tidak dipedulikan, berarti saatnya cari solusi lain.

Baca juga: Curhatan Wanita Usia 30 yang Masih Jomblo

Mungkin, inilah yang bikin konotasi curhat (yang asalnya dari singkatan “curahan hati”) kok, jadi rendah banget. Kesannya, semua orang yang suka curhat itu (apalagi kalau dianggap keseringan) cengeng, lemah, dan nggak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.

figur seorang pria di mata umum

Figur seorang pria itu harus MACHO – gak suka nulis apalagi yang isinya curhatan

Bahkan, ada juga yang seksis soal ini. Kata mereka sih, curhat itu kerjaannya cewek. Meskipun sekali, kesannya cowok yang ikutan suka curhat langsung dianggap sama dengan banci.

Aihh, sadiiisss…

Padahal, konstruksi sosial patriarki-lah yang bikin persepsi jadi timpang dan nggak adil begini. Wong, manusia juga sama-sama lahir dengan kelenjar air mata, hati, dan otak. Kok, kesannya hanya cewek yang berhak jadi pelaku curhat dan banjir air mata?

Sementara itu, cowok seakan wajib selalu tampil perkasa, jago menyelesaikan masalahnya sendiri (dan orang lain kalau bisa), dan…nggak nangis. Kalau pun lagi kepengen curhat, mending sama Tuhan saja atau orang lain yang benar-benar bisa dipercaya. Kalau lagi pengen nangis, sebaiknya juga jangan sampai kelihatan siapa-siapa.

Kasihan juga, ya?

Lalu, Gimana dengan Tulisan yang Berawal atau Dianggap ‘Cuma Curhatan’?

menghadapi masalah dalam hidup

Menulis bisa jadi obat untuk masalah dalam hidup

Curhat lewat tulisan juga kerap jadi bahan olokan. (Makanya, zaman dulu, sebelum ada internet, banyak anak yang menulis buku harian yang bergembok khusus. Anak zaman now masih pada tahu, nggak?) Mau tulisan itu berupa status update di media sosial, blog, hingga artikel lain di media digital, berpotensi kena ‘penghakiman’ sesaat juga.

“Ini tulisan kok, lebih mirip curhatan?”

Bahkan, meskipun jelas-jelas tulisan tersebut berawal dari isu nyata di tengah masyarakat dan sudah dibuat dengan riset khusus (tanpa perlu detil nyebutin risetnya), kritikan asal njeblak pasti ada. Kesal? Wajar saja.

Terus, memangnya kenapa bila tulisan itu berawal atau terkesan ‘cuma curhatan’? Sudah banyak hasil karya berupa puisi, lagu, dan cerita yang sukses meraup keuntungan hanya gara-gara berawal dari curhatan.

Contoh: pernah dengar lagu “No More Drama” karya penyanyi Mary J. Blige?

Nggak hanya sebagai terapi dan ekspresi rasa lega dan syukur telah terlepas dari jerat narkoba, Mary J. Blige juga membagi sekeping catatan kelam hidupnya kepada pencinta musik. Tujuannya? Tentu saja sebagai pengingat.

Ya, jangan sangan sampai ada lagi yang ‘salah jalan’ seperti penyanyi ini dulu…

Saya mengenal banyak teman yang produktif menulis, baik itu puisi, cerpen, hingga artikel di blog. Banyak hasil karya mereka yang berawal dari curhatan, baik diri sendiri maupun orang lain, dan mereka tidak takut membagikannya kepada dunia.

Baca juga: Surat Cinta dari Seorang Introvert

Bahkan, karya ilmiah (yang selalu dianggap jauh lebih bermutu dan intelek daripada fiksi, puisi, dan artikel ringan) belum tentu nggak berawal dari curhatan, lho. Bayangin, bila nggak ada seorang pun di dunia ini yang curhat, belum tentu gejala penyakit maupun isu sosial dapat terdeteksi dan menjadi bahan penelitian.

Kalau sampai nggak ada yang mau meneliti, bisa jadi itu bukan dianggap masalah. Padahal, bisa jadi konsekuensinya besar bila nggak ditangani.

Berbanggalah Kalau Tulisan Kamu Dianggap Curhatan Semata

Memang, semua harus pada porsi yang wajar (meski lagi-lagi setiap orang punya standar berbeda). Tapi, kalau lain kali tulisanmu dianggap ‘cuma curhatan’, justru kamu malah harus bangga. Alasannya:

Caramu curhat lebih sehat.

Daripada gangguin orang, nyinyir sama keberhasilan orang lain, atau – ini yang serem – nyakitin diri sendiri, mendingan nulis.

Menulis bisa membantumu menganalisa masalah dari sudut pandang berbeda.

Daripada numpuk di hati hingga sesak dan di kepala hingga pikiran butek, tulislah. Habis itu bisa dibaca lagi pelan-pelan saat sudah tenang. Siapa tahu, dari situ kamu bisa menganalisa masalah dari sudut pandang berbeda. Syukur-syukur sekalian menemukan solusi.

Curhat lewat menulis terbukti bisa menghasilkan uang.

Kenapa enggak? Contohnya juga udah banyak banget, ‘kan? Anggep aja honor menulisnya untuk obat sakit hati. Hehehe… Ngeblog juga bisa dapat uang. Lumayan kan?

tulisan yang dianggap curhatan

Curhatan kamu bisa bikin dapat uang, kenapa gak?

Cuek Aja Kali Ya….

Jadi, bila lain kali tulisanmu dianggap ‘cuma curhatan’, cuek aja kali ya. Percayalah bahwa kamu bukan satu-satunya. Komentar miring akan selalu ada. Toh, belum tentu yang berkomentar bisa menghasilkan karya yang lebih baik lagi dari yang sudah ada. Seenggaknya kamu sudah mencoba.

Ya, nggak?

RR.

Leave a Reply