Tentang Tradisi Keluarga: Akankah Hilang Nantinya?

Sebentar lagi tahun baru Imlek. Sebagai seorang WNI keturunan, saya ikut merayakan tahun baru ini. Ada beragam tradisi keluarga yang biasa dilakukan di hari itu.

Seperti misalnya – saya lupa sejak kapan – tradisi menikmati masakan keluarga vegetarian buatan Mama. Sayur yang dimasak adalah aneka sayur “daging” yang lezat. Namun dagingnya sendiri terbuat dari terigu yang diolah mirip tekstur daging.

Tradisi keluarga lainnya adalah berkumpul bersama di malam tahun baru, berdoa – memohon perlindungan dan juga berkah. Esok paginya, kami akan mengenakan pakaian baru – fashion Imlek kalau boleh dibilang. Kemudian mulai mengucapkan Selamat Tahun Baru ke Mama, dilanjutkan ke Kakak Tertua dan seterusnya.

Tradisi Keluarga – Akankah Sirna?

Saya gak ingin bahas tentang apa saja tradisi keluarga menyambut tahun baru Imlek ini. Namun, saya tiba-tiba saja terpikir, apakah tradisi yang sudah turun menurun ini akan menghilang nantinya?

Akankah yang namanya Tradisi Keluarga punah – pada akhirnya?

Sebut saja salah satu tradisi yang biasa dilakukan oleh Mama setiap tahun, membuat Bacang. Well, bukan tradisi juga, namun saya ingat ketika saya masih SD, pernah diajak untuk menginap karena Mama harus membuat ini di rumah saudara.

Beberapa tahun lalu, saya sempat membuka pesanan ke teman-teman kantor. Jika mereka ingin memesan Bacang, saya siap.

Sekarang? Sudah tidak lagi – karena satu dan lain hal.

Di luar penyebabnya itu, cara membuat bacang itu pun belum saya kuasai benar-benar.

Okelah kalau saya bisa membuat isiannya. Namun, keunikan bacang, yaitu dalam cara mengikatnya, ini gak gampang. Saya pernah mencoba membantu Mama saat pesanan itu, dan seringnya saya gagal.

Anak Zaman Now – Masihkah Peduli Akan Tradisi?

Saya tidak menyebut diri saya anak zaman now. Namun, saya hidup di zaman sekarang – yang mana seringnya ingin serba instant dan cepat. Bahkan menghindari yang namanya “kerja keras” dan lebih suka bersosial media.

Nah… Apakah kondisi ini akan terus menerus terjadi hingga akhirnya tradisi keluarga itu menghilang?

Ini hanyalah sebuah pikiran random saya.

Seringkali, tradisi dianggap terlalu kuno.

Terlalu kaku! Tidak cocok dengan era yang serba digital sekarang ini.

Bahkan, tidak jarang dalam hal pernikahan, tradisi pernikahan tradisional pun dilewati karena dianggap terlalu rumit.

Padahal, Tradisi Memiliki Makna

Tradisi pernikahan yang sudah ada sejak dulu itu memang memiliki banyak tahapan. Namun, di balik setiap tahapan itu ada makna tertentu.

Sama halnya dalam mengikat Bacang ataupun tradisi tahun baru di keluarga saya. Semua ada makna di baliknya.

Bahkan tidak jarang, generasi sekarang ini tidak paham sama sekali tentang makna di balik setiap tradisi yang harus dilakukan itu.

Lihat Saja Makanan Tradisional

pikiran random tentang tradisi keluarga termasuk kue tradisional rangi ini

Ada yang tahu kue tradisional di atas?

Mungkin ada yang tahu, ada juga yang tidak tahu. Ya… begitulah kenyataannya. Makanan tradisional sekarang pun mulai menghilang dan menjadi makanan “kekinian” yang lebih instagramble.

Makanan-makanan lama, yang menurut saya super uenakkkk, mulai menghilang dan terganti dengan beragam kue yang bergaya wow namun rasanya biasa saja itu.

Ya… memang, kita bicara soal trend kalau soal makanan.

Namun, tidak juga berarti “menghilangkan” yang telah menjadi tradisi keluarga sekian lama kan?

Saya masih ingat, ketika kecil, saya suka sekali ke warung kopi untuk membeli kue pancong.

Iya, kue pancong. Namun, bukan kue pancong kekinian yang marak di aplikasi pesan makanan online itu (yang terkadang harganya pun bikin bengong).

Rasanya menyenangkan. Menikmati sepotong kue pancong ditemani teh panas (belum terbiasa ngopi saat itu) dan berbicara dengan penjualnya ataupun pembeli lainnya.

Rasa inilah yang menghilang – seiring menghilangnya tradisi keluarga juga.

Memang Tidak Semua Laki-laki

Iya, memang tidak bisa juga saya menyamaratakan. Karena kenyataannya tidak semua generasi muda melupakan tradisi ataupun kekayaan tradisi Indonesia.

Seperti misalnya, Kartini jaman sekarang asal Malang ini. Dia bahkan menggalakkan budaya batik di kalangan generasi lebih muda. Bekerjasama dengan sosok pemuda menginspirasi lainnya, dia juga menularkan kecintaan akan batik.

Atau juga, sosok pemuda yang satu ini:

Mas Hanif Wicaksono… sosok pemuda yang giat menggali buah-buahan langka asli Indonesia. Seperti yang ada di gambar di atas.

Sekalipun, dia mungkin tidak mendapatkan eksposure sebesar pemuda lainnya (yang justru kebalikan dari dia), dia terus membudidayakan buah langka itu.

Namun, rasanya, mereka ini puluhan di antara jutaan orang lainnya. Bener gak sih?

Semoga Saya Salah

Iya… semoga sih saya salah dalam hal ini. Tradisi keluarga, tradisi Indonesia – dalam bentuk apapun – tidak akan hilang begitu saja. Masih terjaga dengan baik.

Mungkin… saya saja yang gak tahu kalau di luar sana masih banyak yang sangat peduli akan nilai-nilai tradisional ini. Masih menjadi tradisi keluarga masing-masing. Semoga juga saya tidak akan termasuk yang melupakan tradisi ini.

Nah, kalau menurut Randomers sendiri, apakah tradisi keluarga, tradisi budaya, makanan tradisional dan lainnya akan hilang? Ataukah justru melihat dari sudut pandang berbeda dari saya.

Bahwa tradisi ini akan selalu terjaga oleh generasi sekarang? Share dong #PikiranRandom kalian di sini.

Leave a Reply