Menjadi Beda: Sekadar Keinginan, Pembuktian, atau Memang Demikian?

Dari dulu sering banget denger orang ngomong “Dare To Be Different – Menjadi Beda”. Apalagi waktu remaja, masa seseorang sedang gencar-gencarnya mencari jati diri. Masa transisi yang menantang dan masih butuh arahan biar nggak mudah ‘salah jalan’.

Haruskah Menjadi Beda Hanya Karena….

 

Berani menjadi beda…. Ada tiga (3) pengertian dan sikap yang berbeda mengenai alasan seseorang untuk berani menjadi berbeda:

1. Sekadar Keinginan.

Mungkin selama ini kamu berada di lingkungan yang bisa dibilang ‘homogenis’. Rasanya semua orang melakukan hal yang sama. Bangun pagi, berdoa, mungkin berolahraga sedikit (terutama saat akhir pekan), hingga mandi dan beraktifitas harian. Ada yang sekolah, kuliah, hingga kerja. Bahkan, mungkin ada juga yang bermalas-malasan.

Lalu, apa yang membuat tiap orang berbeda? Banyak hal. Tidak hanya penampilan dan kepribadian, namun juga pilihan hidup mereka.

Mungkin kamu termasuk yang lama-lama merasa bosan disamakan dengan banyak orang dan harus melakukan hal yang sama terus setiap hari. Rasanya seperti memakai seragam sekolah. Beda sedikit langsung jadi pusat perhatian. Melenceng sedikit dianggap melawan.

Namun, niatmu untuk benar-benar stand out sudah benar-benar bulat. Kamu ingin dianggap istimewa, jadi kamu lakukan apa saja untuk benar-benar kelihatan – dan menjadi beda.

Lalu apa tujuanmu? Hanya ingin kelihatan dan dianggap berbeda, biar merasa istimewa? Salahkah mereka yang memilih mengikuti aturan yang ada?

2. Pembuktian Ke???

menjadi beda

Menjadi Beda di antara yang lain karena ingin atau karena memang itu dirimu? foto: pexels.com

Keinginan untuk ‘tampil dan menjadi berbeda’ merupakan hal lumrah setiap manusia. Banyak pakar psikologi menyebutnya sebagai “pencarian jati diri”. Nggak cuma remaja, mereka yang sudah dewasa pun masih ada yang berada dalam tahap ini. Toh, setiap orang punya perannya masing-masing.

Bagi mereka yang mencari aman mungkin merasa lebih nyaman menjadi pengekor. Nggak perlu mikir, cukup ikuti yang di depan mereka. Salah atau benar urusan belakangan. Yang berat? Bila yang depan kemudian jauh meninggalkan mereka.

Namun, ada juga yang ingin berbeda tanpa sekadar ‘dianggap beda’. Biar kekinian, anggap saja ini “self-branding”. Apa ciri khasmu yang belum tentu dimiliki orang lain? Kamu ingin dikenal sebagai siapa dan apa? Apa peranmu di dunia ini? Bagaimana cara membentuknya, sebisa mungkin tanpa terkesan mengekori yang sudah ada? (Susah, mengingat istilah “there’s no longer anything new under the sun”.)

Nggak perlu jadi pengikut Darwin untuk memahami evolusi. Evolusi yang mungkin hanyalah evolusi sosial. Manusia tumbuh dewasa, kematangan pribadi pasti bertambah.

Dalam tahap ini, barangkali kamu sudah mulai menemukan jati dirimu. Keinginanmu, diikuti dengan berbagai usaha dan tujuan hidup yang lebih jelas daripada sekadar “ingin beda aja”.

3. Memang Demikian Adanya.

Di tahap inilah, kamu sudah merasa nggak perlu lagi membuktikan ke siapa-siapa bahwa kamu ‘berani berbeda’. Untuk apa? Memang demikian adanya. Setiap manusia pasti berbeda dan inilah bagian dari realita. Nggak perlu lagi bilang-bilang ke semua orang atau berkoar-koar sebagai pembuktian.

Kerja kerasmu-lah yang berbicara. Konsistensimu dalam apa yang kamu percayai telah menjadi buktinya.

Dalam tahap ini, yang penting bukan lagi “dare to be different” atau ‘berani menjadi beda’. Yang penting adalah “berani menjadi diri sendiri”, meskipun orang lain akan mengecapmu sebagai sosok yang ‘berbeda’ – entah dengan kekaguman atau bernada cibiran. Biarlah kamu yang menjadi penentu hidupmu sendiri di sini, meski tentu saja – Tuhan tetap andil dalam segala hal di dunia ini.

“Dare to be different”Beneran siap dengan perbedaan, atau hanya sekadar tampil beda?

RR.

Leave a Reply