Saat Pola Makan Jadi Ajang Penilaian Dirimu, Iya, KAMU!

“You are what you eat.”

Banyak yang masih percaya dengan pepatah demikian. Bila kamu termasuk pencinta segala jenis makanan, maka secara otomatis kamu langsung dianggap tukang makan. Bila pemilih, maka tuduhan berikutnya bisa banyak: ya jaim, picky eater, hingga orang yang kurang menikmati hidup.

Bila pola makan kamu biasa-biasa saja, gimana? Hmm, mungkin kamu dianggap normal oleh beberapa kalangan. Tapi, sebenernya yang biasa-biasa aja itu kayak apa, sih? Mengingat kadar normal bagi setiap orang itu beda, apakah kita akan sepakat dengan mana yang dianggap ‘biasa-biasa aja’, ‘normal’, hingga ‘berlebihan’?

Perihal Kencan Pertama:

Cerita ini berasal dari dua kenalan, satu laki-laki dan satu perempuan. Sebelum bertemu jodoh masing-masing, mereka sempat mengalami fase serangkaian kencan pertama yang ‘tidak begitu menyenangkan’. Percaya atau tidak, penyebabnya ada di meja makan.

Baca juga: Jatuh Cinta

Mereka sering dianggap sebagai picky eater oleh teman kencan mereka waktu itu. Yang paling kasihan teman perempuan. Tahu sendiri ‘kan, masih banyak laki-laki yang langsung risih begitu perempuan yang mereka ajak kencan milihnya cuma salad, ditambah lagi dengan alasan ‘lagi diet’?

“Jaim amat, sih. Padahal udah kurus juga.”

Nah, lho. Sayangnya, banyak yang kurang sabar untuk mencari tahu penyebab sebenarnya dari mereka yang sangat berhati-hati dalam memilih makanan.

pola makan dan ajang penilaian

Kencan Pertama jadi ajang penilaian pasangan dari pola makan? Alamakkk

Kedua kenalan saya ini sama-sama menderita diabetes. Ya, mau nggak mau mereka harus menakar menu sehari-hari dengan sehati-hati mungkin. Salah sedikit, gula darah bisa ‘gonjang-ganjing’. Terlalu rendah atau tinggi bisa berisiko pingsan, koma, dan bahkan…kematian.

“Kenapa mereka nggak jujur aja dari awal?”

Nah, ini lagi. Perkara ingin memberitahu orang mengenai kondisi mereka ya, terserah nyamannya mereka. Mungkin ada yang dengan entengnya cerita-cerita. Tapi, nggak bisa dipaksa dong, kalo mereka belum siap? Lagipula, bisa jadi mereka nggak mau dikasihani gara-gara kondisi mereka. Toh, nggak ada juga manusia yang ingin sakit.

Andai saja teman-teman kencan mereka dulu mau bersabar hingga saatnya mereka siap bercerita, mungkin jadinya akan beda. Mungkin mereka akan bisa mengenal kebaikan hati dua kenalan saya ini, bukan hanya menilai dari cara mereka makan – pas kencan pertama pula.

Perihal Pola Makan dan Berat Badan:

Oke, saya sedang tidak mencari-cari alasan untuk membenarkan bentuk bodi saya yang chubby. Saya memang suka makan, meski sebenernya juga nggak rakus-rakus amat. Biasa aja. Paling kekurangan saya adalah belum mencintai olahraga seperti saya mencintai dunia tulis-menulis.

Ada yang memang hobi makan banyak, namun badannya tetap kurus. Ada yang baru makan sedikit, beratnya langsung naik. Ada balerina yang gemuk (seperti narsum yang pernah tampil di acara bincang-bincang “Harry” milik aktor dan penyanyi jazz Harry Connick Jr.) Ada yang nyaris nggak pernah olahraga serius dan badan tetap kurus.

Orang berbadan gemuk masih cenderung diasosiasikan dengan hanya mikirin makanan, nggak peduli kesehatan, hingga…malas bergerak. Hmm, kalau memang Oprah Winfrey yang gemuk itu pemalas, nggak mungkin dia sekaya ini sekarang.

apa yang kamu makan jadi penilaian

Lagipula, Oprah Winfrey ternyata juga menderita hipertiroid, yaitu sejenis gangguan hormon tiroid yang membuat seseorang susah menurunkan berat badan. Serajin apa pun mereka berolahraga dan menjaga pola makan, hasilnya sama saja. Berat badan malah lebih mudah naik.

Memang, tetap ada juga yang makan terlalu banyak hingga berat bertambah, sehingga berefek kurang baik bagi kesehatan tubuh. Ada juga yang susah makan, sampai harus mengkonsumsi suplemen vitamin untuk penambah daya tahan tubuh. Intinya, semua kondisi tubuh manusia beda-beda. Nggak bisa disamaratakan juga.

Berty Tilarso, atlet senam dan pemilik sanggar aerobik terkenal, pernah bilang begini: “Pola makan sehat dan jadwal olahraga bisa sama, namun hasilnya bisa bervariasi bagi setiap orang.” Ada yang dalam waktu tiga bulan pertama langsung kelihatan ramping dan mengecil. Ada yang mungkin masih tampak sama, meski mungkin ukuran pinggang mereka sudah turun barang satu-dua nomor.

Pola Makan dan Penilaian… Menurut Kamu?

Ada yang memilih jadi vegetarian, ada yang memang cocok dengan jenis diet tertentu. Daripada memaksakan diri hingga malah jadi sakit, lebih baik sih, pilih yang emang nyaman dan sehat untuk kita. Orang boleh ngomong apa aja, tapi tubuh ini kita yang punya. Nggak cuma itu, kita juga jangan mudah terpengaruh oleh stereotipe yang terlanjur dipercaya massa mengenai pola makan seseorang dengan perilaku dan kepribadian mereka.

Jadi, masih mau menilai seseorang dari pola makan mereka?

RR.

Leave a Reply