Pedis Care – Merawat Luka, Membantu Sesama

Melalui beragam program CSR-nya, Astra terus menunjukkan kepeduliannya dan kebanggaannya akan Indonesia. Salah satunya dengan menyelenggarakan acara malam apresiasi SATU Indonesia Awards 2019 yang memasuki tahun ke-10.

SATU Indonesia Awards adalah program nyata dari salah satu filosofi Astra (Catur Dharma), yaitu Menjadi Milik yang Bermanfaat bagi Bangsa dan Negara.

Melalui program ini, Astra mengapresiasi sosok-sosok pemuda Indonesia yang berbakat dan memiliki potensi dalam pemberdayaan masyarakat Indonesia.

Apresiasi SATU Indonesia Awards telah memberikan bukti bahwa generasi muda yang tangguh dan kreatif mampu menjadi penggerak masyarakat.

Yang memang layak disebut #KebanggaanIndonesia

SATU Indonesia Awards 2019 kali ini mengangkat tema “Age of Pride” dengan semangat #KebanggaanIndonesia. Masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya, apresiasi diberikan kepada mereka (perorangan ataupun kelompok) yang berprestasi dan melakukan aksi nyata untuk masyarakat di bidang Kesehatan, Pendidikan, Lingkungan, Kewirausahaan dan Teknologi.

Selama 10 tahun ini, sudah 53 orang menerima apresiasi SATU Indonesia Awards karena kisah inspiratif membantu masyarakat di sekitar mereka.

Tentang SATU Indonesia Awards 2019

Di tahun 2019 ini, total peserta yang mendaftar mencapai 8.654 dari seluruh Indonesia. Dari pendaftar ini, dilakukan seleksi untuk 60 besar. Setelah itu diseleksi kembali menjadi 26 besar sebagai semi finalis penerima apresiasi ini.

penerima satu indonesia awards 2019
foto by Fitri Yenti

Dari 26 semi finalis yang berasal hampir dari seluruh Indonesia ini, dilakukan seleksi kembali hingga terpilihlah 6 finalis penerima apresiasi SATU Indonesia Awards 2019.

Penerima Apresiasi SATU Indonesia Awards 2019

Berikut ini adalah daftar penerima apresiasi acara SATU Indonesia Awards ke-10:

  1. Bidang Kesehatan: Mohammad Afif asal Jambi – Penebar Pesan Kebersihan ke Pesantren
  2. Bidang Pendidikan: Ai Nurhidayat asal Pangandaran – Penjaga Toleransi Multikultur
  3. Bidang Lingkungan dari Mojokerto: Maya Stolastika Bolen – Petani Organik Millennial dari Flores
  4. Bidang Kewirausahaan: Nurman Farieka Ramdhany asal Bandung – Penyulam Sepatu Kulit Kaki Ayam
  5. Bidang Teknologi asal Surabaya: Hendro Yulius Suryo – Pendidik Generasi Muda lewat Robotic
  6. Untuk penerima apresiasi kategori Kelompok: Pedis Care – Si Perawat Luka, Penghilang Duka asal Malang yang bergerak di bidang Kesehatan.

Pedis Care – Membantu Pasien Tidak Mampu dalam Merawat Luka Kronis

pedis care penerima apresiasi satu indonesia awards 2019 kategori kelompok
foto by Fitri Yenti

Salah satu yang menarik perhatian penulis adalah Pedis Care. Kenapa? Karena luka kronis merupakan hal yang jarang diketahui oleh publik.

Menderita luka kronis merupakan sesuatu yang dihindari, sebab luka kronis sulit sembuh. Untuk kasus diabetes bahkan bisa berujung pada amputasi.

Luka kronis adalah luka yang sudah lama terjadi atau menahun dengan penyembuhan yang lebih lama akibat adanya gangguan selama proses penyembuhan luka.

Gangguan dapat berupa infeksi, dan dapat terjadi pada fase inflamasi, poliferasi, atau maturasi (Perry and Potter, 2016).

Ditambah lagi, berdasarkan data International Diabetes Federation (IDF) tahun 2017, Indonesia menempati urutan ke-6 untuk penderita diabetes (dewasa) tertinggi di dunia. Yaitu sekitar 10,3 juta jiwa penderita (sumber: Sindonews).

Merawat Luka Membantu Sesama

Melihat fenomena ini, Ahmah Hasyim Wibisono bersama rekan-rekannya mengusahakan solusi untuk hal ini. Terbentuklah Pedis Care Malang di tahun 2015.

ahmad wibisono ceo pedis care penerima satu indonesia awards 2019

Pedis Care merupakan pusat perawatan luka modern pertama berdiri di Malang, Jawa Timur dan sudah bekerja sama dengan tim dokter ahli.

“Kita berjuang untuk mencari solusi bagaimana agar pasien-pasien tidak mampu ini bisa mendapatkan perawatan yang bagus.

Salah satunya adalah dengan mengadakan seminar amal, serta dengan subsidi silang, jadi pasien yang mampu membantu pasien yang tidak mampu.

Alhamdulillah banyak pasien kami yang terhindar dari amputasi.”

Hal itu diungkapkan oleh Ahmad selaku CEO Pedis Care, ketika ditemui penulis di acara apresiasi SATU Indonesia Awards 2019 kemarin.

Ahmad sendiri merupakan angota aktif dari Australian Diabetes Educators Association (ADEA) dan Anggota aktif World Council Of Enterostomal Therapist (WCET).

“Ya seminar amal dan workshop bertemakan topik medis sudah sering kami selenggarakan dan dihadiri praktisi medis”, ungkap Ahmad yang juga merupakan Dosen Keperawatan Universitas Brawijaya sejak 2010 ini.

Seminar amal sendiri menjadi salah satu usaha Pedis Care dalam memfasilitasi proses penyembuhan pasien-pasien yang tidak mampu. Selain juga dari kerjasama dengan badan amal dan instansi pemerintahan.

Menjelaskan mengenai Pediscare, Ahmad melanjutkan:

“Pediscare sendiri adalah praktek mandiri tapi berkelompok, komunitas perawat yang peduli pasien-pasien yang luka diabetes. Luka ini dihindari sebab memang sulit untuk disembuhkan.”

Pedis Care – Penerima Apresiasi SATU Indonesia Awards 2019 Kategori Kelompok

Atas usaha memberikan aksi nyata terhadap masyarakat sekitarnya ini, Astra memberikan apresiasi SATU Indonesia Awards 2019 kepada Pedis Care yang diwakili oleh Ahmad.

Apresiasi ini diberikan 4 Oktober 2019 lalu di malam apresiasi yang diselenggarakan berbarengan dengan acara IdeaFest 2019.

Dalam prosesnya sehingga mendapatkan apresiasi dari Astra, Ahmad mengambil pendekatan yang membumi.

“Kami nothing to lose, kami tahu diri, be ourselves, apa yang sudah kita lakukan itu yang kita tampilkan, alhamdulillah respon dari juri bagus,” ungkap pemuda asal Malang itu menutup pembicaraan.

Semoga inspirasi dan aksi nyata Ahmad dan rekan-rekan melalui Pedis Care serta para penerima apresiasi SATU Indonesia Awards 2019 kemarin bisa memberi semangat baru.

Leave a Reply