#PikiranRandom – Saatnya Bersuara atau Diam Saja? Mana yang Lebih Baik?

Kapan? Kapankah saatnya bersuara atau diam? Kapan waktu yang tepat untuk keduanya dan mana yang lebih baik?

Pertanyaan yang tricky, ya? Jawabannya juga mungkin tidak sama bagi setiap orang.

Yang Ingin (Selalu) Bersuara

saatnya bersuara
Foto: unplash.com

Ada yang merasa bahwa sah-sah saja bila mereka bersuara, kapan pun yang mereka inginkan. Toh, itu juga termasuk hak asasi manusia. Mereka punya mulut, jadi bebas dong, untuk mengutarakan isi hati?

Namun, bagaimana dengan waktu dan tempat? Bagaimana dengan perasaan orang lain? Apakah semuanya juga jadi pertimbangan mereka sebelum berbicara?

Bagaimana juga cara menyampaikan suara kita itu? Semua itu bukan hal yang mudah loh.

Bisa jadi kita bersuara, menyampaikan pikiran kita, opini kita, namun ternyata semua itu salah caranya.

Kemudian berakhir dengan ricuh tak jelas. Apalagi di social media.

Lah wong, yang bersuara melalui aksi nyata saja sering menjadi bahan pembicaraan kok. Gimana kalau yang bersuaranya itu dengan cara yang salah?

Yang Memilih Diam Saja

pilih saatnya bersuara atau diam saja?
Foto: unsplash.com

Lalu, bagaimana dengan mereka yang memilih diam saja? Itu juga hak asasi mereka, sih. Mungkin mereka hanya ingin menghemat tenaga.

Mungkin mereka merasa itu bukan urusan mereka. Ada hal lain yang jauh lebih penting untuk dikerjakan.

Namun, apa iya diam itu selalu emas? Apakah kita akan tetap diam saat ada yang jelas-jelas salah dan merugikan?

Apakah kita tetap akan berpura-pura semuanya baik-baik saja?

Mungkin diam tidak selalu berarti tidak peduli. Kadang ancaman tertentu bisa begitu menakutkan di depan mata.

Diam itu (kayaknya) jauh lebih aman. Tidak perlu kita sampai ikut terluka, apalagi bila karena terlalu banyak bicara.

Benarkah Aman bila Diam? Atau Lebih Baik Saatnya Bersuara?

Aman? Kata siapa? Mau sampai kapan? Sampai jengkal demi jengkal kian terkikis, terbatasi – hingga kita nyaris tidak bisa bebas bergerak lagi?

Hanya gara-gara ada yang merasa berhak berkuasa sesuka hati?

Ada saatnya bersuara maupun saatnya untuk diam (dan mendengarkan). Keduanya sama-sama punya konsekuensi.

Terlalu banyak bicara – apalagi dengan kata-kata jahat dan percuma – hanya menghasilkan suara berisik dan mengganggu sesama. Rusaklah rasa damai yang sudah ada.

Jangan Lupa Follow ya, Randomers…

Diam mungkin kesannya juga ideal. Aman, bebas gangguan. Menurut saja bila diminta apa-apa.

Sampai kemudian, kita terlena. Tahu-tahu, gerak kita semakin dibatasi, bahkan tanpa alasan jelas maupun yang masuk akal.

Kita semakin sering dikerjai dan hak-hak dasar kita semakin banyak yang akhirnya terpangkas. Kadang, kita sendiri juga yang membuatnya demikian.

Dengan kata lain, kita berubah menjadi sosok gampangan hanya demi menuruti kemauan orang lain. Demi menghindari ribut-ribut, kita pun memilih pasrah.

Bersuara Salah, Diam Salah… Jadi Gimana?

Lucunya, kita juga masih suka mengeluh – baik dalam hati maupun terang-terangan. Ibaratnya, kita tidak pernah sungguh-sungguh mengamini pepatah:

“Yang waras yang mengalah.”

Bagaimana kita mau sungguh-sungguh? Habis itu, kita masih saja mengeluhkan jumlah orang brengsek di dunia yang semakin bertambah.

Yakin, kalau diam itu selalu emas?

RR.

Leave a Reply