Hiburan Hidup

5 Kerugian Bikin Konten Video Prank Online yang Melecehkan Korban Buat Pelaku

Masih inget video prank ojol (ojek online) yang disuruh pesan delivery makanan, tahunya dikerjain? Kalau sumbangan bakti sosial berisi batu dan sampah untuk transpuan? Semoga masih akan selalu ingat ya, hitung-hitung buat pelajaran.

Kenapa sih, pada suka bikin konten video prank online yang jelas-jelas melecehkan korban? Entah kehabisan ide atau nanti tinggal minta maaf secara terbuka kalau kena hujat netizen, saya nggak tahu. (Jujur, saya juga nggak mau tahu). Yang saya tahu hanya dampak negatifnya yang nggak hanya merugikan korban (bikin mereka merasa malu, marah, hingga terhina karena dilecehkan hanya demi konten viral).

Ya, reputasi pelaku juga bakalan rusak – dan ini bisa berlaku dalam jangka panjang, loh. Mau tahu apa saja kerugian bikin konten video prank online kayak gini untuk kamu?

Siap dipidana? (Foto: Unsplash.com)

5 Kerugian Bikin Konten Video Prank Online untuk Kamu di Masa Depan

Memang, seringnya kerugian bikin konten video prank online seperti ini tuh berasanya nanti, kalau sudah “gede”, tapi bukan berarti gak ada kerugian langsung loh. Paling gak nomor 1 ini bakalan bikin kamu mikir sih…

1. Harus siap kena hujat netizen hingga diproses secara pidana

Ini efek yang paling langsung kerasa. Mungkin banyak followers fanatik yang bakalan membela kamu mati-matian, dengan alasan kamu hanya bercanda dan harusnya orang gak baperan. Tapi… pastinya masih lebih banyak juga yang menghujat kamu dan nganggep kamu kelewatan.

Netizen maha benar? Ya, kali ini mereka memang benar. Selain dihujat, siap-siap saja tuntutan pidana mencoreng reputasi kamu, apa pun hukumannya nanti. Kalau kamu masih bisa lolos dengan membayar denda bila ada, hukuman sosial justru lebih susah dihindarin.

Ingat, yang kamu posting di dunia maya akan selalu ada, apalagi berkat fitur screenshot dan reshare / reupload.

Intinya, jangan harap semua orang bakalan cepat lupa atau segera memaafkan, meskipun kamu udah bikin video konten klarifikasi atau permintaan maaf. Bisa jadi, mereka kira kamu hanya melakukan itu karena takut kena marah. (Kalo enggak, bodo amat.)

Netizen maha benar? Iya… siap-siap kena caci maki karena konten video prank online oleh para netizen

2. Menambah jumlah musuh – dan gak semuanya langsung keliatan

Yang menghujat di dunia maya saja juga sudah banyak, apalagi musuh di dunia nyata. Yang seram, belum tentu semuanya terang-terangan bersikap memusuhi kamu. Bukannya mau nakut-nakutin loh, ini fakta. Bisa aja ada yang diam-diam kenal korban dan menjadi pendengar curhat mereka.

Kalo hanya menjauh sih, masih nggak apa-apa. Kalo diam-diam bikin rencana balas dendam? Tanggung sendiri loh, ya. Jangan ngajak siapa-siapa, apalagi habis itu pake playing victim segala. Nikmatin aja dulu karmanya. Anggep aja gantian kamu yang lagi dibercandain sama semesta.

Pensiunan Influencer – Siap Jadi Apa Saja (Foto: Freepik.com)

3. Sulit mendapatkan pekerjaan serius bila suatu saat mau pensiun jadi influencer

Okelah, konten video prank online kamu yang viral kebetulan bisa bantu kamu menghasilkan duit banyak. Bahkan, kalo emang lagi beruntung banget, kamu bisa dapet lebih banyak ketimbang karyawan kantoran biasa yang terima gaji bulanan setelah kerja 9-to-5.

Tapi inget, yang trending gak akan pernah abadi, karena selalu cepat berganti. Bisa jadi lama-lama banyak yang muak dengan konten bikinan kamu yang begitu-begitu aja, gak ada lucunya pula.

Begitu tabunganmu mulai menipis, mau gak mau kamu harus cari kerjaan lain. Iya, yang pake kirim CV dan semacamnya itu, loh.

Syukur-syukur bila langsung dapet dan pemilik perusahaan gak peduli dengan konten kamu. Tapi, hari gini HRD mana sih, yang gak ngecek track record calon pegawai di dunia maya? Bila konten prank kamu sukses bikin mereka ilfil buat hire kamu, ya sudah risiko.

Gak ngaruh juga meski udah di-take down, karena bisa jadi sudah banyak yang reshare atau upload di platform lain – terus ketahuan sama pihak HRD.

“Gak, aku ilfil gara-gara konten viral kamu!” (Foto: Freepik.com)

4. Sulit memberi kesan bagus untuk calon gebetan.

Beruntung kalau pujaan hati kamu bukan pemerhati media sosial. Lebih oke lagi bila dia pemaaf atau malah setipe sama kamu dari segi karakter – gak pedulian.

Kalau konten prank kamu sukses bikin si dia ilfil, jangan harap cintamu akan diterima. Boro-boro jadi pacar, jadi temen aja juga belum tentu bisa. Percuma nuduh si dia nge-judge kamu hanya dari konten prank bikinan kamu yang pernah viral itu.

Siapa juga sih, yang masih bisa merasa aman sama orang yang suka ngerjain orang lain sejahat itu?

“Kayak kamu mau sama anak kami? Jangan mimpi!” (Foto: Unsplash.com)

5. Belum tentu bakalan diterima oleh calon mertua

Boleh jadi pujaan hati bisa menerima masa lalu kamu sebagai si ‘pembuat konten viral yang melecehkan korban’. Masalahnya, ortu si dia belum tentu. Meskipun mungkin mereka termasuk generasi gaptek, bukan gak mungkin dapet kabar gak sedap soal kamu dari sumber lain yang lebih tahu.

Pastinya, orang tua yang pengen anaknya dapat pasangan hidup yang baik akan berpikir ulang ribuan kali sebelum menerima kamu sebagai pendamping anak mereka.

Lha, Terus Gimana??

Gimana apanya? Lha, jangan tanya saya. Kamu dong, yang usaha biar nggak perlu mengalami lima (5) kerugian di atas hanya gara-gara pengen viral. Caranya? Duh, masa nanya saya lagi, sih?

Tinggal jangan bikin konten video prank online yang menyakiti sesama gitu, hanya gara-gara pengen viral biar makin dikenal…

RR.

Leave a Reply