Hidup

4 Cara Sharing Sudut Pandang Pribadi yang Malah Bikin Keki

Gak di dunia nyata, gak di dunia maya macam media sosial. Obrolan yang tadinya santai-santai aja bisa berubah jadi rusuh. Oh, kenapa? Ternyata gara-gara adu ngotot-ngototan seputar sudut pandang masing-masing. Kalo pun gak sampai rusuh, malah jadi mendadak dingin gara-gara cara sharing sudut pandang lawan bicara.

Sebenarnya sih, gak salah juga kalo mau sharing sudut pandang pribadi. Namanya juga bertukar pikiran. Kita juga jadi bisa saling mengenal sesama manusia dan mempelajari suatu masalah dari sudut pandang yang berbeda.

Lah, terus apa yang salah?? Ini dia empat (4) cara sharing sudut pandang pribadi yang malah bikin keki. Yuk, kita cek satu-satu biar lain kali lebih hati-hati. Gak hanya kamu kok, saya saja kadang juga masih suka bablas berbuat begini kala lupa, alias gak sengaja.

  • Memotong ucapan orang lain dengan sengaja.
Gambar: unsplash.com

“Eh, gue kemarin ke kafe yang baru itu loh, di – “

“Oooh, kafe yang itu? Iya, iya. Gue juga suka ke sana. Makanannya enak-enak, minumannya apalagi. Live music-nya…bla-bla-bla…”

“……….”                                                              

Sering ngalamin kayak gini – atau kamu yang suka melakukan hal ini? Saat orang lain lagi seru-serunya bercerita tentang satu hal, entah itu kafe terbaru atau kejadian tertentu, tahu-tahu kamu semangat nimbrung dan sukses memotong omongan mereka pas di tengah jalan.

Mungkin saking semangatnya karena sama-sama tahu atau suka dengan topik tersebut, tanpa sengaja kamu menginterupsi mereka yang sedang asyik bercerita. Jangankan yang sengaja (kayak poin-poin selanjutnya di bawah), yang nggak sengaja aja udah cukup bikin kesel. Kamu gak mau ‘kan, diperlakukan seperti itu juga? Jangan, ya.

Saran: Emang sih, rasanya sulit menahan diri pas pengen sharing soal yang kamu tahu ke orang lain. Tapiii…liat-liat sikon dulu, yah? Untuk amannya, mending tunggu sampai mereka yang lagi ngomong soal yang sama selesai dulu. Lebih baik bersabar, daripada malah dianggep gak sopan. Ya, nggak?

  • Ngerasanya sih sharing, padahal lebih kayak berkompetisi.

Nah, kalo yang ini, entah kenapa sering banget terjadi saat ada yang lagi cerita soal musibah atau yang seram-seram. Contoh:

“Bulan lalu gue kecopetan dompet sama ponsel sekaligus dalam semalem – “

“Ah, elo masih mending. Gue pernah kehilangan laptop malah. Hilangnya pas gue lagi naik bus…bla-bla-bla…”

“……….”

Kenapa sih, dikit-dikit kayak harus merasa tersaingi? Apalagi bila saingannya soal musibah. (Nah, ini termasuk salah satu dari tiga komentar yang sebaiknya kita hindari saat ada kenalan kena musibah.) Emangnya bakalan dapet apa, sih?

Saran: Sama kayak poin sebelumnya, tungguin deh, sampai orang itu selesai cerita dulu. Hindari komentar nggak simpatik yang malah bikin mereka tambah down. Jangan sampai kamu jadi orang nyebelin sampai orang males dengerin ceritamu lagi.

  • Hobi memaksakan pendapat dari sudut pandang sendiri.

“Menurut gue, elo harusnya jangan apa-apa mudah kesinggung. Omongan orang yang gak enak selalu elo masukin ke hati, makanya elo jadi gak punya temen.”

“Elo gak pernah dengerin saran orang. Elo keras kepala, makanya lama-lama pada males nasehatin elo.”

“Gue ‘kan cuman pengen yang terbaik buat elo. Kok elo marah sih, gue kasih tahu?”

Hmm, susah kalo udah perang opini macam ini, apalagi ditambah dengan nada memaksa atau kalimat “Sekadar mengingatkan” hingga tuduhan bernada nyinyir kalo kalian sama-sama nggak open-minded. Lupakan dulu istilah ruang aman buat sesama menjadi diri sendiri kalo ruang publik dan privat saja masih belum pada tahu bedanya. (Apa malah nggak mau tahu dan mengakui kalo dua ruang itu emang asli beda?)

Inget-inget aja, deh. Kita manusia dengan cerita hidup yang berbeda-beda. Apa yang buat kamu cocok, belum tentu sama buat mereka. Bisa juga, yang menurut mereka oke-oke saja tapi ternyata malah enggak banget menurut kamu.

Saran: Ayolah, kita sama-sama udah dewasa. Bolehlah nggak sepakat sama satu hal, namun jangan memperuncingnya dengan menyerang mereka yang berbeda pendapat. Bolehlah memberi saran, namun jangan memaksa mereka untuk menerima saran dari kamu – apalagi sampai menyindir mereka, di depan umum pula. Inget ya, nggak ada yang suka diperlakukan seperti anak kecil.

Selain itu, kita nggak bisa mengendalikan hidup mereka dan pastinya juga nggak mau diatur-atur. Memberikan nasihat adalah pilihan, begitu pula dengan menerimanya atau tidak. Nggak perlu diambil hati kalo mereka memutuskan untuk enggak sepakat sama kamu. ‘Kan mereka juga punya hak yang sama untuk berbuat begitu.

By the way, yang namanya open-minded itu berarti kerelaan menerima bahwa setiap orang punya sudut pandang berbeda dalam memandang suatu masalah. Kalo sampai ada yang merasa benar sendiri hingga memaksa yang lain untuk setuju sama mereka itu namanya memaksa. Jangan sampai salah kaprah pake istilah ini dalam berargumen, ya.

  • Bersikap egosentris.

“Ah, masa sih, ada diskriminasi di negeri ini? Perasaan gue sama tetangga gue yang beda suku dan ras baik-baik aja.”

“Kenapa sih, ngebahas KDRT melulu? Emangnya semua pernikahan seburuk itu? Gue ama suami gue baik-baik aja.”

Nah, ini sebenarnya rada-rada mirip juga sama poin sebelumnya. Bedanya? Ibarat manusia masa kini yang asyik hidup di dalam ‘gelembung’ masing-masing. Gak liat-liat sikon, terus merasa bahwa pengalaman hidup mereka paling valid. Sayangnya, model begini suka meragukan pengalaman orang lain, apalagi yang beda banget sama mereka.

Parahnya, orang yang egosentris cenderung menuduh orang lain yang punya pengalaman berbeda sebagai pembohong. Sedih, ya? Semoga kamu nggak termasuk orang seperti ini.

Saran: Okelah, mungkin selama ini interaksimu dengan berbagai macam manusia di lingkungan tetangga menyenangkan. Kamu menikah dengan sosok yang baik hati dan tidak pernah melakukan kekerasan padamu.

Namun, belum tentu semua orang seberuntung kamu. Mungkin kamu tidak melihat, lingkungan tetangga A ternyata suka mengucilkan satu-satunya penduduk minoritas – beda dengan di lingkunganmu. Pernikahanmu baik-baik saja, tapi bisa jadi tetangga yang tinggal dua rumah dari rumahmu sering cekcok dan saling lempar piring.

Coba perbanyak pergaulan dengan berbagai jenis manusia. Dengarkan cerita-cerita mereka dengan empati, tanpa penghakiman. Dari situ, kamu bisa tahu kalo ada berbagai sisi berbeda dari suatu masalah atau kisah. Hitung-hitung sebagai pengingat untuk lebih bersyukur sama yang udah kamu peroleh tanpa harus jadi sombong.

Gaak…gak ada larangan kok, buat sharing sudut pandang pribadi. Semua orang berhak melakukannya, termasuk kamu. Asal ingat empat (4) contoh kasus di atas, kalo gak mau obrolan yang tadinya santuy berubah jadi bikin keki.

Oh, iya. Selain empat hal di atas, apa lagi sih, cara sharing sudut pandang pribadi yang bikin orang keki?

RR.

Leave a Reply